Menata Industri Perunggasan Nasional

ayam petelur

1. Peranan Industri Perunggasan

Industri perunggasan memiliki peran sangat penting dalam perekonomian. Hal ini dimungkinkan karena industri perunggasan mampu menghasilkan swasembada daging unggas maupun telur. Selain itu, sektor ini ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat.
Produk unggas berupa daging ayam dan telur adalah sumber protein yang berkualitas dengan harga terjangkau. Saat ini, 65% daging yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari daging ayam.

Selama ini Indonesia termasuk memiliki rasio konsumsi daging ayam dan telur yang rendah dibandingkan dengan negara tetangga di Asean. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, usaha perunggasan pada 2015 masih akan meningkat. Konsumsi daging dan telur ayam bisa meningkat dibanding konsumsi 2014. Potensi industri poultry di Indonesia masih akan terus tumbuh lebih tinggi. Membandingkan dengan negara-negara Asean lainnya, angka konsumsi per kapita daging ayam Indonesia baru mencapai 8 kg/tahun masih di bawah Thailand 16 kg/tahun, dan Filipina 9 kg/tahun. Padahal angka pendapatan per kapita Indonesia tergolong masih lebih tinggi dari Filipina. Untuk meningkatkan konsumsi, sejumlah upaya kampanye gizi dilakukan oleh masyarakat perunggasan.

Dari sisi ekonomi, perunggasan telah menyerap 2,5 juta tenaga kerja langsung dengan total omzet berkisar Rp120 triliun per tahun. Lapangan kerja di perdesaan dapat berkembang dengan adanya usaha peternakan unggas. Di samping itu, perunggasan juga merupakan faktor penggerak industri terkait lainnya di bidang pertanian, antara lain usaha budidaya jagung, dedak padi dan sebagainya.

2. Permasalahan Industri Perunggasan

Permasalahan dalam industri perunggasan adalah adanya kelebihan pasokan ayam sehingga harga ayam di pasar lokal menjadi tertekan.Pada sisi lain, kenaikan harga pakan dan biaya produksi terus melambung. Kondisi ini menyebabkan peternak rakyat semakin terjepit.

Selain itu feedmill di Indoensia mampu menghasilkan 18,5 juta ton, sedangkan kebutuhan hanya 13 juta ton. Masih ada 5 juta yang belum terpakai.

Pertumbuhan DOC mencapai 20%, sedangkan permintaan kurang dari 15%. Artinya ada kelebihan produksi yang menyebabkan harga ayam potong mudah jatuh. Peternakan ayam broiler dan petelur penghasil DOC sebagian besar merupakan perusahaan besar yang sudah menggunakan teknologi modern. Sebagian besar industri peternakan ayam komersial di Indonesia merupakan penanaman modal asing (PMA) yang mendominasi pasar, dengan menguasai sekitar 70%-80% pasar.

Standarisasi kualitas DOC dan pengaturan suplainya untuk menjaga tingkat harga yang lebih stabil dan bisa menguntungkan berbagai pihak. Langkah ini sudah mulai dikerjakan oleh Pemerintah akibat membanjirnya suplai DOC sejak beberapa bulan lalu yang mengakibatkan banjir ayam broiler di pasaran menyebabkan kerugian berkepanangan tidak hanya di kalangan peternak tetapi juga menghampiri usaha pembibitan dan pabrik pakan. Kualitas DOC bisa bervariasi di antaranya tergantung umur induk. DOC yang kualitasnya jelek membutuhkan pemeliharaan ekstra.

3. Tantangan Industri Perunggasan

Tantangan ke depan adalah semakin terbukanya pasar perunggasan nasional sehingga bukan tidak mungkin persaingan pasar perunggasan akan semakin sengit. Pasar unggas selama ini masih memperoleh perlindungan dari pemerintah dari serbuan impor, seperti melalui aturan persyaratan halal. Namun, kini pasar halal sudah menjadi hal yang lumrah dalam bisnis global dan bukan menjadi suatu restriksi dalam perdagangan.Sebagai contoh, Brasil sebagai negara pengekspor unggas terbesar dunia, kini menjadi pemasok terbesar pasar halal Timur Tengah.

Dalam waktu dekat, industri unggas Brasil juga akan masuk pasar dalam negeri melalui kerja sama dengan kelompok Indofood. Kondisi ini akan semakin menambah persaingan yang menekan peternak rakyat. Bukan tidak mungkin nasib peternak rakyat akan gulung tikar. Dan persaingan beralih dari hanya terjadi di antara perusahaan besar PMA dan penanam modal dalam negeri (PMDN), di mana saat ini mereka diduga sudah pada tahap saling melakukan dumping.

Kebanyakan perusahaan besar di industri perunggasan sudah melakukan integrasi dengan terjun ke industri hulu sampai hilir untuk meningkatkan efisiensi. Usaha dengan populasi besar lebih efisien karena lebih mampu mengendalikan penyakit dengan penerapan sanitasi yang ketat, biaya pakan lebih murah dan memungkinkan evaluasi kualitas pakan untuk mencari yang terbaik dan konsisten. Sehingga bisa dihasilkan ayam dengan indeks performans yang tinggi. Di industri hilir mencakup pengolahan hasil ternak untuk dijadikan nugget, sosis dll. Produksi daging mempunyai tempat penampungan sebagai upaya diversifikasi produk, yang secara tidak langsung dapat menahan fluktuasi harga daging ayam di pasar.

4. Solusi Penataan Industri Perunggasan

Menghadapi tekanan ini, diperlukan adanya roadmap dan business plan yang jelas dalam memajukan peternak rakyat yang sinergis dengan perusahan besar melalui pola kemitraan. Jika tidak ada perbaikan maka sektor perunggasan nasional kian tertekan terutama pada peternak rakyat. Saat pasar bebas Asean dibuka, secara otomatis peternak rakyat harus bersaing dengan peternak dari berbagai negara di Asean. Pangsa pasar PMA selama ini sudah terintegrasi mulai dari industri pakan hingga pembibitan. Lemahnya daya saing peternak rakyat karena masih terjebak dalam ekonomi biaya tinggi.

Perlunya pengendalian impor grand parent stock (GPS) atau bibit ayam indukan akan menghadapi situasi sulit, karena pasar sistem perunggasan nasional sudah mengacu kepada liberalisme. Hal itu tertuang pada UU No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang merupakan revisi dari UU No. 6 Tahun 1967, maka peran pemerintah sangat penting mengendalikan impor GPS yang saat ini dianggap berlebihan.

Perlunya pengembangan pembinaan kemitraan yang dilakukan oleh industri dan pemerintah kepada peternak rakyat dengan mendorong peternak rakyat beralih pada sistem pengadopsian teknologi yang tepat guna dan efisien. Sebagian besar pelaku usaha peunggasan masih menggunakan cara tradisional. Hal tersebut menyebabkan kualitas hasil produksi masih rendah pula. Dari ayam potong yang diproduksi hanya 20% yang berupa ayam beku, 80%-nya merupakan ayam pasar basah yang sangat rentan. Dengan kondisi ini, jelas akan kalah bersaing dengan PMA yang industrinya sudah terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dari sudut pandang pakan, persaingan akan meningkatkan efisiensi adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, situasi akan selalu mencari titik keseimbangan baru. Apabila usaha perunggasan belum efisien atau kalah efisien dibandingkan dengan negara tetangga maka perlu dilakukan pembenahan, terkait dengan hal-hal sebagai berikut :
a). Pabrik pakan didirikan lebih adaptif dengan kondisi pasar dan sumber daya. Misalnya pabrik berkapasitas menengah tetapi didirikan dekat dengan sentra produsen bahan baku (jagung). Juga sudah merambah ke kota kota besar di luar Jawa. Pulau Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan sudah mulai digarap dengan lebih serius dan menjanjikan pertumbuhan yang baik. Cara demikian adalah untuk menekan biaya transportasi bahan baku dan pakan.
b). Kualitas pakan diformulasi pas dengan kebutuhan nutrisi di fase umur yang tepat. Misalnya penggunaan jenis pakan starter – grower – finisher sebagai pengganti program pakan tunggal untuk satu siklus hidup. Strategi ini perlu kerja bareng antara riset – formulasi – marketing untuk memastikan hasil yang baik yang bisa didapatkan oleh peternak pelanggan.
c). Jenis bahan baku yang digunakan lebih beragam dengan mencari sumber – sumber baru. Meskipun harus diimpor tetapi sepanjang mempunyai suplai yang kontinu dan dalam jumlah besar, serta kualitas nutrisi yang bisa diandalkan maka itu membuka peluang untuk bisa menurunkan biaya pakan.
d). Mengoptimalkan penggunaan bahan baku yang tersedia lokal khususnya jagung, sehingga memacu petani untuk meningkatkan produktivitas dan luas tanam apabila hasil produk nya terjamin akan diambil oleh pabrik pakan. Harga yang terbentuk akan selalu merupakan keseimbangan dengan harga jagung impor. Bagaimanapun juga kualitas jagung lokal lebih baik dibandingkan jagung impor dengan pertimbangan lebih segar (panen baru), kadar xanthophyl dan protein lebih tinggi. Hanya penanganan pasca panen yang jelek menyebabkan banyak susut akibat kotor, berjamur yang meningkatkan kandungan alatoksin.

( pb-ispi.org )

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below