Penggunaan Gandum Untuk Pakan Ternak Meningkat

pakan unggas

Kalangan pelaku usaha produsen pakan ternak memutuskan untuk mengunakan gandum sebagai komposisi tetap pakan unggas, merespons keputusan pemerintah yang menunjuk Perum Bulog sebagai importir tunggal komoditas jagung.

Selain itu, prospek suplai jagung sepanjang tahun pun diyakini belum secara merata dapat memenuhi kebutuhan pabrik pakan yang mencapai 800.000 ton flat per bulan.

Oleh karena itu, penambahan gandum sebagai komposisi tetap dilakukan untuk menjaga kontinuitas produksi pakan unggas. Apalagi, menjelang lebaran, permintaan pakan selalu meningkat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (APPI, sebelumnya bernama GPMT) Desianto Budi Utomo pada Bisnis menjelaskan komoditas gandum menjadi pilihan kedua jika ternyata benar produksi jagung nasional belum dapat memenuhi kebutuhan pabrik pakan.

“Perlu digarisbawahi gandum sebetulnya digunakan pada saat jagung tidak dapat mencukupi sebanyak yang dibutuhkan oleh pabrik pakan. Jadi kalau jagungnya ada, penggunaannya tetap menjadi prioritas pabrik pakan,” kata Desianto di Jakarta, Rabu (11/5).

Desianto menjelaskan sebelumnya pabrik pakan menggunakan komposisi 50%-55% jagung dalam setiap kilogram pakan unggas. Per awal tahun ini, komposisi tersebut diturunkan hanya menjadi 35% jagung per kilogram pakan.

Pengurangan 20 persentase poin penggunaan jagung tersebutlah yang akan disubsitusi dengan pencampuran gandum.  Asosiasi mencatat dalam periode Januari-April tahun ini, penggunaan gandum telah mencapai 400.000 ton dan kebutuhan jagung turun menjadi flat 700.000 per bulan.

“Kami mengantisipasi dengan mengerem pemakaian jagung sehingga dapat lebih berkepanjangan ketersediaannya. Kalau pekan ini digunakan seluruhnya lalu minggu depan jagung tidak ada, komposisi pakan bisa berubah drastis,” jelas Desianto.

Menurutnya, pabrik pakan akan tetap menggunakan jagung jika tersedia dan harganya sesuai karena komoditas itu memang merupakan bahan baku utama dengan keunggulan nilai gizinya, berwarna kuning, dan dapat diolah dalam keadaan lebih segar.

Dia menggarisbawahi selain karena pabrik pakan tidak diperbolehkan lagi mengimpor jagung, harga jagung di dalam negeri yang fluktuatif dan kadar air yang kerap masih tinggi pun mendorong pabrik pakan menjadikan gandum sebagai komposisi tetap pakan unggas.

April lalu Presiden Joko Widodo dikabarkan telah menandatangani Perpres penugasan Perum Bulog. Lembaga stabilisator harga itu ditugaskan tak hanya mengurusi beras, tetapi juga dua komoditas target swasembada lainya yaitu jagung dan kedelai.

Konsekuensinya, Bulog juga harus menyerap jagung untuk menjaga harga di tingkat petani sesuai dan menjadikannya cadangan pangan. Selain itu, Bulog pun menjadi importir tunggal jagung yang secara teknis diatur oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan).

Penunjukan Bulog sebagai importir jagung merupakan akhir dari peristiwa panjang penghentian impor jagung secara tiba-tiba oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Di sisi lain, produksi jagung sepanjang tahun tidak merata. Di bulan-bulan tertentu, produksi defisit sehingga dinilai impor tetap harus dilakukan.

Desianto mengatakan konsekuensi penggunaan gandum sebgai komposisi pakan ternak jika kekurangan jagung yaitu penambahan biaya produksi dari penggunaan enzim. Penambahan biaya ini tentu dibebankan langsung pada peternak yang membeli pakan dari perusahaan-perusahaan produsen.

Direktur Pengadaan Perum Bulog, Wahyu mengatakan penyaluran jagung dari lembaga itu ke perusahaan-perusahaan pabrik pakan memang menurun seiring meningkatnya penggunaan gandum.

“Kami menyerap jagung langsung pada petani dengan anggaran yang tidak terbatas. Sekarang masih ada stok di gudang yang kami serap dari produksi di Sulawesi Selatan. Harganya Rp3.150 dengan kadar air 15%,” terang Wahyu.

( bisnis.com )

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below