Peternakan Ruminansia Kecil Potensial Tekan Kemiskinan

domba kambing

Pengembangan ruminansia kecil (ternak kambing dan domba) di Indonesia memiliki prospek bagus, meski masih mengalami berbagai kendala. Usaha ruminansia kecil berperan dalam pengentasan kemiskinan, diantaranya berperan sebagai tabungan, asuransi, dan mencukupi kebutuhan hewan kurban.

Selain itu, pertambahan penduduk akan meningkatkan kebutuhan protein hewani asal ternak. Peluang ekspor pun masih terbuka lebar, terutama pangsa pasar Timur Tengah sebagai penyedia hewan kurban. Lonjakan permintaan terhadap produk-produk ternak di abad Ke-21, ini sebagaian besar dipicu tingginya urbanisasi. Terutama di negara-negara berkembang.

Ini momentum baik bagi peternak kecil untuk mengoptimalkan usaha ruminansia kecil guna meningkatkan pendapatan peternak. “Peran ruminansia kecil dalam pengentasan kemiskinan juga diprediksi akan terus meningkat, mengingat tidak kurang 1,2 miliar penduduk dunia, 20 persen diantaranya masih dikategorikan miskin dengan pendapatan kurang dari 1 dolar AS per hari.

Karenanya kontribusi ruminansia kecil dalam pengentasan kemiskinan masih terus diharapkan,” kata Prof Ir I Gede Suparta Budisatria MSc PhD dalam pidato pengukuhan guru besar Fakultas Peternakan di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), baru-baru ini.

Pola Pikir

Dalam pidato berjudul “Ruminansia Kecil di Indonesia, Tantangan dan Prospek Pengembangannya”, Gede Suparta mengungkapkan dalam rangka mendukung kecukupan konsumsi daging maka tujuan beternak ruminansia kecil tidak cukup hanya sebagai usaha sampingan. Karena itu dibutuhkan perubahan pola pikir.

“Meski keterbatasan sumber daya yang dimiliki peternak, paradigma skala usaha perlu diubah, yang semula beternak sebagai usaha sambilan ditingkatkan menjadi cabang usaha. Bahkan beternak sebagai usaha pokok,” tegasnya. Gede meyakini, tujuan yang masih bersifat usaha sampingan perkembangan ruminansia kecil tidak akan memberikan kontribusi yang signifikan. Sebab peternak dengan kondisi skala kepemilikan yang relatif kecil sangat sulit mengadopsi teknologi tepat guna.

Karena itu, penciptaan peternak-peternak baru yang benar-benar “peternak” (bukan hanya usaha tani) harus dilakukan. Adanya keterbatasan modal yang sering dikeluhkan peternak misalnya, dapat diatasi dengan mengadopsi pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) yang sudah berjalan baik pada unggas. “Pola seperti ini telah mulai diterapkan terutama oleh peternak domba di Jawa Barat dengan tingkat keberhasilan tinggi”, paparnya

( suaramerdeka.com )

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below