Pertanian Harus Terintegrasi dengan Peternakan

sapi

Mohammad Arum Sabil, Ketua Asosiasi Petani Tebu Jatim mengatakan, sudah saatnya pertanian berintegrasi dengan peternakan. Penggabungan ini dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih sehingga dapat menarik minat generasi muda untuk menjadi petani.

“Semua anak muda menginginkan masa depan yang potensi ekonominya terjamin. Pertanian dan peternakan jika dikelola dengan baik dapat menjamin itu,” kata Arum kepada Radio Suara Surabaya, Minggu (15/2/2015).

Pertanian terintegrasi dengan peternakan dimaksudkan agar dapat memotong biaya produksi dan mendapat nilai ekonomi lebih. Contohnya, limbah pertanian dapat digunakan sebagai pakan ternak dan kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk.

Kini, menurut Arum, paradigma sawah dan peternakan sebagai tempat kotor pelan-pelan telah berubah menjadi lebih baik. Dengan mudahnya akses informasi, masyarakat mulai membandingkan sawah dan peternakan di Indonesia dan luar negeri.

Dengan semakin majunya teknologi, peternakan dan pertanian dapat dikelola dengan sistem yang lebih baik dan efisien. Sehingga peternakan tak lagi bau dan pertanian tak lagi identik dengan kemiskinan.

Arum mengatakan, walau jumlahnya belum banyak, di beberapa tempat telah ada kelompok-kelompok yang terdiri dari anak muda, mulai mengembangkan usaha pertanian dan peternakan.

“Pemerintah harus mendukung dengan memberikan program yang terimplementasi dengan baik, perlindungan, informasi yang mendidik dan menerapkan regulasi yang baik, terutama tentang impor pangan,” kata Arum.

Arum mencontohkan kasus impor sapi beberapa waktu lalu yang sangat merugikan peternak sapi potong. Harga sapi impor yang lebih murah dikarenakan peternak di luar negeri tidak perlu mengeluarkan cost lebih untuk pakan ternak.

“Dilepaskan, cari makan sendiri. Efeknya, kita tidak tahu sapi itu terkena Antrax atau tidak. Konsumen harus memikirkan itu,” katanya.

( suarasurabaya.net )

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below